Oleh : Abu Abdullah
Sumber : www.al-ikhwan.net

AlhamduliLLAAHi wash Shalatu was Salamu ‘ala RasuliLLAAHi wa ‘ala ‘alihi,

Ikhwah wa akhwat fiLLAAH,

Semoga ALLAH SWT senantiasa mengumpulkan kita semua setiap waktu dalam manisnya ibadah, lisan yang basah dengan dzikruLLAAH, tubuh yang penat & letih dalam memperjuangkan ummat & membela agama ALLAH, hati yang ikhlas dan jauh dari hasad & ghill, aamiin ya RABB....

Dan segala puji bagi ALLAH jua, yang dengan nikmat-NYA telah menunjukkan kepada dakwah ini sebagian hasil dari perjuangan para mujahid-NYA, dakwah ini sedikit demi sedikit telah mulai mewarnai kehidupan berpolitik & bernegara, sekalipun masih belajar dan walaupun dengan tertatih-tatih & terjungkal disana-sini, ia telah mulai menampakkan berbagai hasil positifnya bagi para penanamnya, liyu’jibuz-zurra’a liyaghizha bihimul kuffar, yang tidak akan diingkari kecuali oleh orang-orang yang menzhalimi dirinya sendiri....

Sekalipun dihujani berbagai kritik & bahkan juga tuduhan, baik secara langsung maupun melalui media massa, tetapi mereka yang berada di dalam sistem dapat melihat adanya perkembangan arus kebaikan & perbaikan yang signifikan dengan masuknya para da’i dalam sistem tersebut, lambat tapi pasti kebatilan mulai tergeser & al-haqq mulai menunjukkan pengaruhnya, waLLAAHu musta’an....

Ikhwah wa akhwat fiddin,

Beberapa hari yang lalu, ada beberapa ikhwah yang mengirim email maupun SMS ke ana, meminta menjelaskan tentang “Dzikir Al-Ma’tsurat” yang ditulis oleh Imam Al-Banna -rahimahuLLAAH- yang katanya banyak disebut sebagai kumpulan dzikir yang dha’if & maudhu’, oleh sebagian saudara kita fiddiin....

Ana teringat beberapa waktu yang lalu, saat berkesempatan mengunjungi Islamic Development Bank (IDB) Jeddah bersama beberapa asatidz, saat kami berada di Jeddah, kami bertemu dengan ikhwah disana, dan diminta memberikan taujih. Setelah selesai menyampaikan taujih, nampak ada seorang ulama Jeddah (yang menurut ikhwah disana tidak suka dengan harakah & hizb), ia bertanya demikian: Mengapa Al-Ikhwan mengamalkan doa Al-Ma’tsurat yang merupakan kumpulan hadits-hadits dha’if?

Saat itu saya tidak berkesempatan menjawabnya, karena telah dijawab oleh beberapa ikhwah yang lain, namun nampaknya beliau -hafizhahuLLAAH- merasa tidak puas. Maka saat ramah-tamah, saya mendekatinya & terjadi dialog sbb:

Saya: Apakah antum sudah membaca kitab-kitab kumpulan doa & dzikir yang ditulis oleh para ulama kita Salafus Shalih?

Beliau: Sudah, bini’matiLLAAH…

Saya: Apakah antum bisa menunjukkan kepada saya, satu saja dari kitab kumpulan doa mereka itu yang tidak berisi hadits-hadits dha’if?

Beliau: Maksud ustadz?

Saya: Saya memohon jika bisa ditunjukkan kepada saya, ada 1 saja kitab kumpulan doa/dzikir yang ditulis ulama salaf yang bersih dari hadits-hadits dha’if.

Beliau: Wah, ana belum pernah tuh mencek semuanya..

Demikianlah potongan diskusi kami dengan beliau -semoga ALLAH SWT mengampuni saya & beliau-, yang kesemuanya ini menunjukkan substansi masalah yang sebenarnya, yaitu telah beredarnya berbagai isu & fitnah seperti malam yang gelap gulita di antara para aktifis Islam, tanpa didasari sikap husnuzhan & rihabatus-shudur....

Seandainya kita semua berpijak pada prinsip husnuzhan & rihabatush-shudur kepada sesama aktifis & da’i Islam, maka kita bisa membagi pekerjaan dakwah ini untuk menggarap berbagai segmen berdasarkan karakteristik khusus (khashais) & spesialisasi (takhassusiyat) dari masing-masing gerakan Islam, dan tidak perlu disibukkan untuk membantah tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh sesama saudara sendiri, yang malah amat sangat membantu & menguntungkan para musuh-musuh Islam untuk memecah-belah ummat, wabiLLAAHi nasta’in....

Kembali ke permasalahan Al-Ma’tsurat, maka ketahuilah wahai ikhwah wa akhwat fiLLAAH a’anakumuLLAAH jami’an, bahwa kalau seorang yang alim, maka mereka akan tahu bahwa tidak ada satupun kitab yang ditulis ulama salafus-shalih yang khusus berisi kumpulan doa & dzikir yang tidak berisi hadits-hadits dha’if, sekedar untuk menyebutkan contoh, sampai kitab Al-Adab Al-Mufrad karangan Kibarul Muhaddits (Tokoh Terbesar para Ahli Hadits) yaitu Imam Abi AbdLLAAH Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Bardizbah Al-Bukhari (Imam Bukhari) juga banyak mengandung hadits-hadits dha’if....

Demikian pula kitab Al-Amalul Yaumi wa Laylah (baik yang ditulis oleh Imam An-Nasa’i, maupun oleh Imam Ibnu Sunni), kitab Al-Adzkar karangan Imam An-Nawawi, dan bahkan kitab Al-Kalimut Thayyib yang dikarang oleh salah seorang pelopor mujaddid pembersihan bid’ah & khurafat, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahuLLAAH- (yang telah di-syarah/diberi penjelasan oleh muridnya Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Al-Wabilus Shayyib) juga bertaburan hadits-hadits dha’if....

Lalu mengapa dengan banyaknya hadits-hadits dha’if dalam tulisan para ulama tersebut, lisan mereka diam & tidak menyebarkan fitnah, sementara terhadap Al-Ma’tsurat (yang kalaupun ada hadits dha’ifnya, maka tidaklah sebanyak dalam kitab Al-Kalimut Thayyib-nya Syaikhul Islam), lisan mereka mencaci-maki kepada penulisnya, yang telah mempersembahkan hidupnya untuk Islam & disaksikan oleh banyak orang, kemudian lisan mereka sibuk menyebarkan aib & menggunjingkannya?!

Hanya salah satu dari 2 alasan, apakah karena mereka tidak berilmu, ataukah karena ghill (kedengkian) yang telah bersarang di dalam hati mereka, dan apapun dari kedua sebab itu adalah sangat menyedihkan dan merupakan sebuah kerugian besar....

Ikhwah wa akhwat fiddiin rahimakumuLLAAH,

Jika kita benar-benar berusaha memahami ilmu hadits, maka akan kita ketahui pendapat para muhaddits tidaklah sama, tash-hih maupun tadh’if juga dapat saja berbeda antara seorang muhaddits dengan muhaddits yang lain, maka berpegang kepada pendapat seseorang seperti Syaikh Al-Albani -rahimahuLLAAH- misalnya dalam perbedaan pendapatnya dengan Syaikh Syakir dalam men-shahih-kan & men-dha’if-kan adalah dibolehkan, namun jika menyatakan pasti Syaikh Albani-lah yang benar, maka hal tersebut perlu ditinjau dalam beberapa sisi.

Pertama, apakah yang berkata adalah seorang ahli hadits, sehingga pendapatnya bisa diterima atau yang bicara hanya seorang thalabul-ilmi? Kedua, kalaupun dia seorang ahli hadits maka apakah penelitiannya diterima semua peneliti hadits atau berbeda dengan penelitian orang lainnya? Ketiga, kalaupun ada beberapa peneliti menyatakan hal yang sama, maka apakah orang-orang menerima keadilan mereka itu atau merasa tidak ithmi’nan karena dianggap mewakili & memiliki “sikap keberagamaan yang tertentu”, dst.

Saya pribadi pernah menemui hal seperti di atas, saat di sebuah web milik saudara kita dikatakan bahwa hadits Piagam Madinah tidak shahih, mu’dhal, dst. Sebagai orang yang ber-husnuzhan pada saudaranya maka saya ber-istighfar karena saya telah berpegang kepada hadits-hadits tersebut (lihat Tulisan saya di millist & web ini tentang: Koalisi Politik dalam Islam), sayapun ingin merujuknya, namun iseng saya membuka beberapa tulisan di web berkenaan tentang hadits Piagam Madinah tersebut, lalu kemudian saya menemukan bantahan terhadap hal tsb. dari sebuah tulisan Syaikh Akram Dhiyauddin Al-Umary yang meneliti masalah tersebut & menemukan bahwa hadits-hadits tersebut walaupun secara tekstual dha’if namun sebenarnya ada di-isyaratkan dalam shahih Al-Bukhari.

Demikianlah ikhwah wa akhwat fiLLAAH rahimakumuLLAAH, maka terus-terang masalahnya tidak sesederhana yang dikira oleh sebagian orang, dan tentang Al-Ma’tsurat maka sudah banyak orang yang berusaha men-tahqiq hadits-hadits-nya, seperti Syaikh Ridhwan Muhammad Ridhwan, Syaikh DR AbduLLAAH Azzam, Syaikh Prof DR Abdul Halim Abu Syuqqah, dll. Maka kalaupun ingin dilakukan diskusi dalam masalah ini, maka tidak boleh dengan hujatan, tuduhan, dsb; karena para peneliti tersebut adalah orang yang berkafa’ah di bidangnya sebagai muhaddits. Karena itu, tidaklah semua itu tuduhan, cercaan & fitnah itu disebarkan, kecuali makin menunjukkan sedikitnya ilmu & rendahnya akhlaq seseorang.

Maka di akhir tulisan ini ana ingin menyampaikan kepada antum semua bahwa kita (AL-IKHWAN) tidak menyukai mengamalkan hadits-hadits yang dha’if apalagi maudhu’, kita selalu berusaha berpegang kepada yang shahih semampu kita, hal ini bisa dilihat oleh orang-orang yang inshaf (adil) pada buku-buku tulisan para ulama kita, jikapun ditemui adanya hadits dha’if maka itu bukanlah karena disengaja, melainkan kekhilafan belaka, bedakan dengan saudara kita dari sebagian kaum Sufi atau lainnya, yang memang secara sengaja mengumpulkan kitab dari hadits-hadits dha’if, seperti dalam kitab Durratun Nashihin, Fadha’ilul A’mal, dsb....

Rabbanaghfirlanaa wa li ikhwaninalladzina sabaquna bil iman, wala taj’al fi qulubina ghillan lilladzina amanu....

Ikhwah wa akhwat fiLLAAH,

Permasalahan kedua yang ingin ana bahas berkaitan dengan tema wirid Al-Ma’tsurat adalah berkaitan dengan kayfiyyat (tatacara) membacanya, karena banyak orang yang mempertanyakan mengapa sebagian ikhwah ada yang membacanya sendiri-sendiri (dan ini disepakati kesunnahannya), namun adapula yang membacanya secara berjama’ah (bersama-sama) bukankah cara yang kedua ini termasuk bid’ah?

Dalam kesempatan ini ana akan mencoba membahas (sesuai dengan kebiasaan ana) yaitu menjelaskan duduk permasalahan serta metode istinbath (pengambilan hukum) yang dilakukan para ulama salaf dari Al-Qur’an & As-Sunnah. Dan setelah itu ana akan mencoba menjelaskan bagaimana sampai terjadi ikhtilaf (perbedaan pendapat di kalangan salaf) tentang masalah tsb.

Dan dalam masalah ini ana akan konsisten untuk menjelaskan duduk masalah ikhtilaf di kalangan mereka tsb. sepanjang ia masih disandarkan pada dalil yang shahih. Dan sekali lagi, tsumma sekali lagi, ana akan konsisten mengajak ummat ini untuk mengetahui letak perbedaan pendapat tsb. dan ana tidak akan mengarah-arahkan ummat pada satu pendapat tertentu atau kesimpulan tertentu yang ana pilih ataupun sesuai dengan pendapat Syaikh Fulan atau Lajnah Fulan yang “lebih baik” dari pendapat Si Fulan atau Hizb Fulan.

Sebab sebagaimana dikatakan oleh Fadhilatu Syaikh DR Yusuf Al-Qaradhawi –hafizhahuLLAAH- bahwa terjadinya ta’ashub (fanatik) golongan & tafarruq di antara ummat [1] bukan disebabkan karena banyaknya kelompok, partai, dan hizb, melainkan pangkal mula dari para muta’ashshibin tsb. adalah jika suatu kelompok sudah merasa dirinya “paling benar” atau “paling berhak” untuk menafsirkan atau menyimpulkan hukum dan kemudian mulai membawa “palu bid’ah” atau “mukhalifu-sunnah” untuk dipukulkan kepada mereka yang berbeda dengannya.

Kembali ke pokok tema kita hari ini. Tentang pendapat yang menganjurkan untuk dzikir secara sendiri-sendiri dengan tidak berjama’ah atau tidak dalam satu suara, ana tidak akan membahasnya disini, karena insya ALLAAH hal ini sudah muttafaq ‘alayh (disepakati adanya). Namun yang akan ana bahas adalah mengenai adakah dalilnya bagi mereka yang berdzikir secara berjama’ah menurut Al-Qur’an, As-Sunnah serta mafahim Ulama Salafus Shalih? Jawabannya bi-idzniLLAAH adalah sbb;

DALIL AL-QUR’AN DAN TAFSIRNYA:

“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim).” [2]

Berkata Imam Abu Ja’far dalam tafsirnya [3], para ulama ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna “ad-du’a” yang dipanjatkan oleh para kaum dhu’afa tsb. Ada yang memaknainya shalat fardhu, ada yang memaknainya tempat di-shaff belakang saat shalat berjama’ah, dan ada yang memaknainya PARA AHLI DZIKIR, dan ada pula yang memaknainya mempelajari Al-Qur’an & membacanya, dan ada pula yang mengartikannya ibadah mereka. Lalu Imam At-Thabari menguatkan bahwa maknanya adalah berdoa kepada ALLAAH baik dengan memujinya, mensucikannya baik melalui lisan dan perbuatan [4].

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” [5]

Imam Abu Ja’far berkata bahwa maknanya ialah: “Bersabarlah engkau wahai Muhammad bersama para sahabatmu dalam bertasbih, bertahlil, bertahmid, berdoa dan beramal shalih (baik dengan shalat fardhu maupun sunnah) yang kesemuanya itu untuk mengharapkan keridhoan ALLAAH SWT dan tidak mengharapkan dengan semua perbuatan tsb. keuntungan sesaat di dunia saja.” [6]

Berkaitan dengan makna yang kita pilih (dzikir bersama dalam satu majlis) dalam konteks ini Imam Abu Ja’far –rahimahuLLAAH- meriwayatkan sebuah hadits sbb; “Telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi’ bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahhab, mengkabarkan padaku Usamah bin Zaid, dari Abu Hazim, dari AbduRRAHMAN bin Sahl bin Hunaif, dari AbduRRAHMAN bin Sahl bin Hunaif berkata bahwa ayat ini turun saat nabi SAW sedang berada di salah satu rumah istrinya, maka beliau SAW segera keluar dan menemui suatu kaum sedang sama-sama berdzikir kepada ALLAAH SWT, dst…, lalu beliau SAW ikut duduk bersama mereka...” [7]

Imam – Muhyis Sunnah - Abu Muhammad Al-Baghawi juga meriwayatkan hadits senada dengan ini dalam tafsirnya[8] dari Qatadah RA: “Ayat ini turun berkenaan dengan Ahlus Shuffah, yaitu sekitar 700 orang shahabat di masjid nabi SAW yang (tidak punya pekerjaan tetap), tidak berdagang, tidak bertani & tidak memerah susu, sehingga mereka sering menyambung shalat & menunggu antara waktu-waktu shalat menunggu (dengan berdzikir & berdoa), dst.” [9]

DALIL AS-SUNNAH DAN SYARAH-NYA:

“Sesungguhnya ALLAAH SWT memiliki para Malaikat yang selalu berkeliling kemana-mana untuk mencari para Ahli Dzikir, apabila mereka menjumpai SEKELOMPOK KAUM YANG SEDANG BERDZIKIR kepada ALLAAH SWT maka merekapun saling berseru: Ayo kesini! Inilah kebutuhan yang kita cari! Lalu merekapun membentangkan sayap & menyelimuti mereka dengan sayap-sayapnya hingga sampai ke langit dunia. Maka ALLAAH SWT bertanya pada mereka (padahal IA lebih mengetahui dari mereka): Apa yang dikatakan oleh para hamba-hamba-KU itu? Maka jawab para malaikat: Mereka semua bertasbih, bertakbir, bertahmid memuliakan ENGKAU. Maka ALLAAH SWT berfirman: Apakah mereka bisa melihat-KU? Maka jawab para malaikat: Tidak demi ALLAAH mereka tidak bisa melihat-MU. Maka firman ALLAAH SWT: Bagaimana jika mereka bisa melihat-KU? Jawab Malaikat: Jika mereka dapat melihat-MU maka mereka akan lebih hebat lagi beribadah, memuliakan, bertasbih. Maka firman-NYA: Apa yang mereka minta? Jawab Malaikat: Mereka meminta Jannah. Firman-NYA: Apakah mereka sudah melihatnya? Jawab malaikat: Belum demi ALLAAH mereka belum pernah melihatnya. Maka firman-NYA: Bagaimana jika mereka melihatnya? Jika mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan lebih lagi menginginkan, memintanya dan mengejarnya. Firman-NYA: lalu terhadap apa mereka meminta perlindungan? Jawab Malaikat: Terhadap neraka. Firman-NYA: Apakah mereka sudah melihatnya? Jawab Malaikat: Belum demi ALLAAH mereka belum pernah melihatnya. Maka firman-NYA: Bagaimana jika mereka melihatnya? Jika mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan lebih lagi melarikan diri, merasa takut kepadanya. Firman-NYA: Maka saksikanlah oleh kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka semua. Maka berkata salah satu Malaikat: Disana ada Fulan yang bukan termasuk mereka, ia cuma datang karena ada keperluan saja. Firman-NYA: Mereka ada dalam satu majlis, maka tidak rugilah orang yang ada dalam majlis tsb.” [10]

Berkata Imam –Al-Hafizh- Ibnu Hajar Al-Asqalaniy dalam syarah-nya atas hadits ini sbb: “Bahwa yang dimaksud majlis Dzikir adalah majlis berdzikir kepada ALLAAH SWT seperti bertasbih, bertakbir, tilawah Qur’an, berdoa untuk kebaikan dunia & akhirat, membacakan hadits-hadits Nabi SAW, mempelajari ilmu-ilmu syariat, berkumpul untuk melakukan shalat sunnah, dst. (sampai kata-katanya) dan ini menunjukkan keutamaan Majlis Dzikir dan MAJLIS ORANG-ORANG YANG BERDZIKIR dan KEUTAMAAN BERKUMPUL UNTUK MELAKUKAN ITU SEMUA.” [11]

Berkata Imam Ibnu Baththal dalam syarah-nya: “Dzikir itu ada dua macam. Pertama adalah dengan mengingat perintah & larangan-NYA, dan kedua adalah berdzikir dengan lisan. Kedua jenis dzikir tsb. mendapatkan pahala.. dst, sampai kata-katanya: Keutamaan pada keduanya itu, pahala & kemuliaannya itu lebih besar lagi jika melakukannya secara bersama-sama (ijtima’)...” [12]

“Tidaklah duduk suatu kaum untuk berdzikir kepada ALLAAH ‘Azza wa Jalla, kecuali Malaikat menutupi mereka (dengan sayap-sayap mereka), mereka pun diliputi oleh kasih sayang ALLAAH SWT, dan turun ketenangan dari sisi ALLAAH dan ALLAAH menyebut (nama-nama) mereka di kalangan para malaikat yang disisi-NYA.” [13]

Berkata Imam An-Nawawi –rahimahuLLAAH- dalam kitab syarah-nya sbb [14]: “Dalam hadits ini jelas disebutkan tentang keutamaan berdzikir & keutamaan Majlis-majlis untuk itu, duduk-duduk bersama ahli dzikir sekali pun ia tidak BERDZIKIR BERSAMA-BERSAMA MEREKA, serta keutamaan majlis orang-orang shalih serta barakah bersama mereka, waLLAAHu a’lam.”

“Berfirman ALLAAH SWT (dalam hadits Qudsiy): AKU tergantung prasangka hamba-KU terhadap-KU, dan aku bersamanya jika ia mengingat-KU, jika ia mengingat-KU di dalam hatinya maka aku mengingatnya di dalam hati-KU, dan jika ia mengingat-KU DALAM SUATU KELOMPOK maka AKU mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik dari mereka, dan jika ia mendekat sejengkal maka AKU mendekat padanya sehasta, jika ia mendekat sehasta maka AKU mendekat padanya sedepa, dan jika ia mendekat pada-KU dengan berjalan maka AKU mendekat padanya dengan berlari.” [15]

Berkata Imam Ibnu Hajar bahwa makna “Mala’in” adalah jama’ah [16]; demikian pula pendapat Imam Al-Aini dalam syarah-nya terhadap hadits ini [17]. Pengarang Tuhfatul Ahwadzi menambahkan [18]: “Yaitu berdzikir bersama jama’ah kaum muslimin ataupun di hadapan mereka.” Sekedar menambahkan sampai Imam An-Nawawi –rahimahuLLAAH- dalam kitabnya yang terkenal Riyadhus-Shalihin mengumpulkan beberapa hadits dalam bab [19] yang diberinya judul “Keutamaan Halaqah Dzikir & Disunnahkan Komitmen Dengannya Serta Dilarang Memisahkan Diri Darinya Tanpa Adanya Uzur”, tentunya kita memahami bahwa yang disebut halaqah dzikir bisa dimaknai orang yang berdzikir bersama-sama dalam satu jama’ah, sekalipun makna berdzikir sendiri-sendiri di suatu tempat bisa juga diterima.

Demikianlah wahai ikhwah wa akhawat fiLLAAH, a’anakumuLLAAHa jami’an, apa yang ana sampaikan ini tidaklah berarti menafikan keutamaan dzikir masing-masing (munfarid), bahkan sebenarnya inilah yang lebih utama & lebih sering dilakukan oleh kalangan Salaf. Namun jikapun ada yang melakukannya secara bersama-sama maka hendaklah tidak dianggap bid’ah, karena masalah ini merupakan makanul-khilaf, karena sebagaimana saya tunjukkan bahwa dalil-dalil yang ada masih memungkinkan adanya perbedaan dalam penafsiran, sehingga yang dapat kita lakukan adalah memilih salah satu pendapat yang lebih kuat (berdasarkan penelitian) tapi menghormati bagi yang ingin memilih pendapat yang lain.

WaLLAAHu a’lamu bish Shawaab…

Catatan Kaki:

[1] Lihat Kitab beliau Ash-Shahwah Al-Islamiyyah Bayna Al-Ikhtilaf Al-Masyru’ wat Tafarruq Al-Madzmum.

[2] QS Al-An’am, 6/52

[3] Imam At-Thabari, Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an, XI/381

[4] Ibid, XI/387

[5] QS Al-Kahfi, 18/28

[6] Op.cit, XVIII/5

[7] Ibid, XVIII/6; Saya berkata: Hadits ini Rijal-nya di-taustiq oleh Imam Ibni Hajar Al-Haitsami dlm kitabnya Majma’uz Zawa’id (VI/384, hadits no. 10998) sbb : “Hadits ini di-takhrij oleh Imam At-Thabrani dan Rijal-nya adalah Rijal Shahih.”

[8] Ma’alimut Tanzil, V/166

[9] Lihat Juga tafsir Ad-Durrul Mantsur, V/380 dan Ibnu Katsir, III/82

[10] Al-Jami’us Shahih Lil-Bukhari, XXI/252

[11] Fathul Bari’ Libni Hajar, XVIII/212 no. 5929

[12] Syarh Ibnu Baththal, XIX/184

[13] Shahih Muslim, XVII/312, bab “Keutamaan Ijtima’ (Berkumpul) Membaca Al-Qur’an dan Berdzikir”

[14] Syarhun Nawawi ‘Ala Muslim, XVII/15

[15] HR Bukhari, XXIV/246 bab “Wa YuhadzdzirukumuLLAAHu Nafsah” no. 7404; Muslim, XVII/253 bab “Al-Hatstsu ‘Ala DzikriLLAAHi Ta’ala” no. 6981

[16] Fathul Bari’, XX/481 no. 6856

[17] Umdatul Qariy, XXXVI/38

[18] Tuhfatul Ahwadzi, VIII/500, no. 3527

[19] Riyadhus Shalihin, Kitabul Adzkar, Bab Fadhlu Halqudz Dzikri Wan Nadbu Ila Mulazamatiha, hal. 424

Koresponden Email
Dikirim oleh: Faishal Fahmy
Jum'at, 24 April 2009


Cetak Artikel
  Cetak Artikel

 

 


  Beauty of Mathematics



 

Isi Buku Tamu
ISI BUKU TAMU

  HUBUNGI KAMI

 

Lihat Buku Tamu
LIHAT BUKU TAMU